Di TikTok, 3 detik pertama itu segalanya. Bukan soal kamera mahal atau editan ribet, tapi apakah orang mau berhenti scroll atau tidak. Kalau di detik awal saja penonton sudah tidak merasa “terpanggil”, algoritma pun ikut cuek.
Masalahnya, banyak konten bagus gagal perform bukan karena produknya jelek, tapi karena hook-nya datar.
Bisa jadi terlalu basa-basi, terlalu aman, atau terlalu mirip konten lain.
Hook yang baik itu bukan harus lebay. Ia hanya perlu satu fungsi utama, yaitu membuat orang berpikir, “Eh, ini ngomongin gue!”
Berikut 10 template hook yang bisa kamu pakai, lengkap dengan contoh penerapannya untuk berbagai produk dan niche.
1. “Banyak Orang Salah Paham Soal …”
Template ini bekerja karena menyentil rasa penasaran dan ego. Orang cenderung ingin tahu apakah mereka termasuk yang “salah paham”.
Contoh penggunaan:
- Produk skincare:
“Banyak orang salah paham soal jerawat, dan ini bikin skincare kamu nggak pernah cocok.”
- Jasa keuangan:
“Banyak orang salah paham soal nabung, makanya gajian terus tapi tetap habis.”
2. “Kalau Kamu …, Video Ini Buat Kamu”
Hook ini terasa personal dan langsung menyasar audiens tertentu. Algoritma TikTok suka konten yang jelas targetnya.
Contoh penggunaan:
- Kelas online:
“Kalau kamu pengin mulai bisnis tapi bingung dari mana, video ini buat kamu.”
- Produk parenting:
“Kalau anakmu susah makan, jangan skip video ini.”
3. “Gue Baru Ngeh Satu Hal, dan Ini Penting Banget”
Nada reflektif seperti ini terasa manusiawi dan tidak menggurui. Cocok untuk konten edukasi ringan.
Contoh penggunaan:
- Produk digital:
“Gue baru ngeh satu hal, kenapa banyak orang gagal jualan online meski produknya bagus.”
- Personal brand:
“Gue baru sadar, capek kerja itu bukan selalu karena kurang libur.”
4. “Ini Alasan Kenapa … Kamu Nggak Jalan-Jalan”
Template ini mengajak audiens bercermin tanpa menyalahkan secara frontal.
Contoh penggunaan:
- Travel:
“Ini alasan kenapa rencana liburan kamu selalu cuma wacana.”
- Bisnis:
“Ini alasan kenapa konten kamu rajin tapi nggak pernah naik.”
5. “Stop Lakuin Ini Kalau Kamu Nggak Mau …”
Hook berbasis larangan ringan seperti ini efektif karena memberi rasa urgensi.
Contoh penggunaan:
- Produk kecantikan:
“Stop lakuin ini kalau kamu nggak mau wajah makin breakout.”
- Edukasi keuangan:
“Stop lakuin ini kalau kamu nggak mau gaji habis tiap bulan.”
6. “Dulu Gue Pikir …, Ternyata Salah”
Cerita personal, meski singkat, membuat konten terasa jujur dan tidak seperti iklan.
Contoh penggunaan:
- Fitness:
“Dulu gue pikir diet itu harus mahal, ternyata salah.”
- Software atau tools:
“Dulu gue pikir semua aplikasi mahal itu ribet, ternyata nggak.”
7. “Nggak Banyak yang Ngomongin Ini, Tapi …”
Template ini memberi kesan insider knowledge, seolah penonton diajak masuk ke informasi eksklusif.
Contoh penggunaan:
- UMKM:
“Nggak banyak yang ngomongin ini, tapi packaging bisa bikin produk kamu kelihatan mahal.”
- Karier:
“Nggak banyak yang bahas ini, tapi kerja keras doang sering nggak cukup.”
8. “Cuma Butuh … Buat Bikin …”
Hook ini menarik karena sederhana dan menjanjikan hasil yang terasa dekat.
Contoh penggunaan:
“Cuma butuh 5 menit buat bikin caption jualan lebih enak dibaca.”
- Parenting:
“Cuma butuh satu kebiasaan kecil buat bikin anak lebih fokus.”
9. “Kalau Bisa Balik ke Awal, Gue Bakal …”
Hook reflektif seperti ini memancing empati dan rasa penasaran.
Contoh penggunaan:
- Bisnis:
“Kalau bisa balik ke awal jualan, gue bakal hindari kesalahan ini.”
- Investasi:
“Kalau bisa balik ke awal nabung, gue bakal mulai dari sini.”
10. “Ini Bukan Iklan, Tapi Penting Buat Kamu Tahu”
Template ini efektif karena menurunkan mental block penonton terhadap konten promosi.
Contoh penggunaan:
- Produk kesehatan:
“Ini bukan iklan, tapi penting buat kamu yang sering begadang.”
- Edukasi digital:
“Ini bukan jualan, tapi penting kalau kamu sering bikin konten.”
Hook Bukan Tipuan, Tapi Undangan
Hook bukan soal memanipulasi penonton. Ia lebih seperti undangan halus, “Masuk sebentar, gue mau cerita sesuatu.”
Selama isi konten tetap relevan dan jujur, hook yang kuat justru membantu pesanmu sampai ke orang yang tepat. Algoritma boleh berubah, tapi satu hal tetap sama, bahwa manusia masih suka konten yang terasa dekat dengan hidupnya.


