7 Hal yang Wajib Dicek Sebelum Membeli Franchise

7 Hal yang Wajib Dicek Sebelum Membeli Franchise

Membeli franchise sering terlihat seperti jalan pintas menuju bisnis yang aman. Brand sudah dikenal, sistem sudah jadi, bahkan kadang sudah disediakan pelatihan.

“Tinggal ikut,” katanya. “Tinggal jalan,” begitu mimpinya.

Tapi di balik semua janji manis itu, tidak sedikit orang yang justru kecewa setelah uang ratusan juta keluar. Gerai sepi, biaya tak terduga muncul, dan dukungan yang dijanjikan ternyata tidak seindah presentasi.

Masalahnya bukan selalu pada franchise-nya.

Sering kali, calon mitra terlalu percaya tanpa benar-benar mengecek dari awal. Padahal, membeli franchise itu bukan beli produk, tapi masuk ke hubungan bisnis jangka panjang.

Sebelum tanda tangan kontrak dan transfer uang, paling tidak ada 7 hal penting yang wajib kamu cek dengan kepala dingin.

1. Jangan Cuma Lihat Brand, Lihat Angkanya

Nama besar memang menggoda. Tapi brand yang ramai di media sosial belum tentu sehat secara bisnis.

Yang perlu kamu cek justru angka-angkanya. Contohnya, estimasi omzet realistis (bukan versi “terbaik”), margin keuntungan setelah semua biaya, dan tentunya titik impas alias break event point (BEP).

Kalau franchisor hanya bicara potensi tanpa mau buka hitungan detail, itu tanda bahaya. Bisnis yang sehat tidak takut transparan.

Ingat, brand terkenal tidak otomatis berarti untung!

2. Pelajari Kontrak dengan Pikiran Curiga

Kontrak franchise bukan formalitas belaka. Di situlah semua hak dan kewajibanmu dikunci.

Perhatikan hal-hal, seperti durasi kerja sama, biaya perpanjangan, royalty feedan marketing fee, hingga aturan jika ingin berhenti atau pindah lokasi.

Banyak mitra baru sadar “terjebak” setelah membaca ulang kontrak saat masalah muncul. Kalau perlu, jangan ragu minta bantuan orang yang paham hukum bisnis.

Lebih baik ribet di awal daripada menyesal di tengah jalan. Bukan, begitu?

3. Tanyakan: Siapa yang Sebenarnya Untung Besar?

Pertanyaan ini penting, meski jarang diucapkan.

Coba cari tahu:

  1. Apakah franchisor lebih untung dari jual lisensi dibanding performa gerai?
  2. Apakah mereka aktif mengembangkan sistem atau hanya fokus ekspansi?

Franchise yang sehat tumbuh bersama mitranya, bukan tumbuh di atas mitra yang kelelahan.

Kalau franchisor terlihat lebih sibuk jual paket dibanding bantu operasional, kamu perlu waspada.

4. Wajib Ngobrol dengan Mitra yang Sudah Jalan

Jangan puas hanya dengan testimoni pilihan dari pihak franchisor. Cari mitra lain secara mandiri.

Tanyakan hal-hal yang jarang muncul di presentasi. Mulai dari realita omzet harian, tantangan operasional, seberapa responsif support dari pusat, serta apakah mereka akan beli franchise ini lagi jika bisa mengulang.

Jawaban jujur dari orang yang sudah menjalani biasanya jauh lebih berharga daripada slide promosi.

5. Cek Dukungan Nyata, Bukan Janji Umum

Banyak franchise menjanjikan “pendampingan penuh”. Tapi apa artinya secara konkret?

Perhatikan secara detail:

  1. Apakah ada training rutin atau hanya di awal?
  2. Siapa yang dihubungi saat ada masalah?
  3. Seberapa sering evaluasi dilakukan?
  4. Apakah marketing pusat benar-benar terasa dampaknya?

Dukungan bukan slogan semata. Ia harus bisa diukur dan dirasakan.

6. Hitung Biaya Tak Terduga yang Sering Terlupakan

Banyak calon mitra hanya fokus pada biaya awal. Padahal, biaya berjalan sering jadi sumber stres.

Jangan lupakan biaya sewa lokasi, gaji karyawan, bahan baku wajib dari pusat, renovasi tambahan, sampai biaya operasional harian.

Franchise yang kelihatannya “murah” bisa jadi mahal dalam jangka panjang kalau struktur biayanya berat.

Jangan cuma tanya “modal berapa”, tapi “habis itu kuat berapa lama?”.

7. Tanya ke Diri Sendiri: Cocok Nggak dengan Gaya Hidupku?

Ini sering diremehkan, padahal krusial.

Beberapa franchise sebenarnya butuh kehadiran penuh setiap hari. Bahkan ada yang jam operasionalnya panjang dan tekanan operasionalnya tinggi.

Kalau kamu berharap bisnis ini bisa jalan sendiri tanpa keterlibatan, pastikan sistemnya memang memungkinkan.

Banyak orang capek bukan karena bisnisnya rugi, tapi karena tidak sesuai dengan ritme hidup mereka.

Bisnis yang baik adalah yang bisa kamu jalani, bukan yang cuma terlihat menjanjikan.

Franchise Itu Bukan Jalan Pintas, Tapi Jalan Berpagar

Franchise memang menawarkan sistem yang lebih rapi dibanding bisnis dari nol. Tapi pagar itu ada dua sisi: bisa melindungi, bisa juga membatasi.

Membeli franchise bukan soal ikut-ikutan tren, tapi soal kesiapan finansial, mental, dan pemahaman jangka panjang. Semakin teliti kamu di awal, semakin kecil peluang kecewa di belakang.

Uang bisa dicari lagi. Waktu, energi, dan kepercayaan jauh lebih mahal.

Mau edukasi dan inspirasi seperti ini lebih banyak lagi? Kunjungi robuxtousdconverter.com. Temukan beragam insight menarik seputar bisnis dan keuangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top